Vivo V60 meluncur hanya lima bulan setelah V50, sebuah siklus upgrade yang tergolong sangat cepat. Meski jedanya singkat, Vivo tetap berhasil menghadirkan sejumlah peningkatan berarti. Generasi kali ini membawa kamera telefoto baru, baterai lebih besar 6.500 mAh, serta peningkatan chipset menjadi Qualcomm Snapdragon 7 Gen 4.
Skor & Kelebihan
Vivo V60 mendapatkan nilai 6,5 dari 10 versi PhoneArena, sedikit di atas rata-rata kelasnya (6,1). Nilai tertinggi datang dari sektor baterai — sel 6.500 mAh memberikan daya tahan luar biasa, ditambah pengisian cepat 90W. Namun, absennya fitur pengisian nirkabel menurunkan skor. Kualitas videonya justru menjadi kejutan positif, berada satu poin di atas rata-rata. Performa harian mulus dan cukup tangguh untuk tugas berat, tetapi pengalaman pengguna masih tertahan karena software yang terasa penuh bloatware.
Desain dan Kualitas Bangun
Secara tampilan, Vivo V60 nyaris identik dengan V50. Layarnya tetap 6,77 inci AMOLED dengan bezel tipis dan simetris, serta desain melengkung yang terasa nyaman di tangan (meskipun agak besar untuk penggunaan satu tangan).
Kualitas rakitan cukup baik, namun rangkanya masih menggunakan plastik, mengingatkan bahwa ini bukan kelas flagship. Tergantung varian, bagian belakangnya bisa berupa kaca atau material komposit.
Menariknya, V60 sudah mengantongi sertifikasi IP68 dan IP69 — tahan debu, tahan air hingga terendam penuh, bahkan tahan semprotan bertekanan tinggi. Kombinasi ini sangat jarang di kelas harganya.
Unit yang digunakan di kantor adalah varian Berry Purple dengan finishing matte anti sidik jari. Pilihan warna lain antara lain abu-abu netral, Summer Blue yang berubah warna dari biru ke kuning muda saat terkena cahaya, serta Moonlit Blue, Ocean Blue, hingga Auspicious Gold.
Vivo juga memberi kelengkapan lebih dibanding para pesaing. Dalam kotak penjualannya disertakan casing silikon dengan warna senada, adaptor charger 90W, dan kabel USB-A ke USB-C — lebih lengkap dibanding Samsung, Google, bahkan OnePlus belakangan ini.
Layar AMOLED 6,77 Inci
Panel AMOLED berukuran 6,77 inci ini memakai resolusi Full HD+ (2392 × 1080), mendukung HDR10+ untuk streaming, dan memiliki kecerahan puncak sekitar 1.500 nits — sangat cukup untuk penggunaan outdoor. Pengguna bisa memilih mode warna standar, vivid, atau profesional, dan refresh rate mencapai 120Hz untuk pengalaman scrolling yang halus.
Satu kekurangan adalah teknologi PWM dimming yang belum ditingkatkan, sehingga pengguna sensitif terhadap flicker OLED mungkin merasa tidak nyaman saat brightness rendah. Selain itu, kontrasnya kuat, sudut pandangnya bagus, dan tepian layar yang sedikit melengkung membuat tampilannya hampir terlihat datar.
Dalam pengujian lab, layar Vivo V60 mencapai 1.425 nits pada uji APL 20% dan 1.515 nits pada layar penuh — keduanya sangat baik untuk penggunaan di luar ruangan. APL 20% lebih realistis karena umumnya proporsi warna putih saat penggunaan sehari-hari. Akurasi warna juga kuat, dengan Delta E 1,44 untuk RGB/CMY (sangat baik) dan 2,34 untuk grayscale (baik). Satu-satunya kekurangan kecil adalah gamma yang sedikit lebih tinggi dari idealnya, namun keseluruhan kalibrasi layar sangat baik untuk harganya.
Sistem Keamanan Biometrik
Pemindai sidik jari optik di dalam layar menjadi metode utama membuka kunci. Namun, posisinya agak terlalu rendah, sehingga agak sulit dijangkau dengan ibu jari dan cepat terasa mengganggu. Kecepatannya cukup andal, meski tidak terlalu cepat. Fitur face unlock juga tersedia sebagai opsi kedua, tetapi tidak seaman sidik jari dan tidak bisa digunakan untuk pembayaran nirkontak.
Kamera: Kekuatan di Telefoto, Kelemahan di Ultrawide
Dalam pengujian skor kamera, Vivo V60 meraih total 132 poin—cocok dengan kelas mid-range. Kamera utama 50 MP mencetak skor tinggi di angka 75, sementara lensa telefoto yang baru menambahkan nilai fungsional meski terbatas, dengan skor zoom 20. Titik lemahnya justru datang dari kamera ultrawide 8 MP (17 poin), yang menurunkan nilai keseluruhan. Untuk video, V60 juga meraih skor total 132, dengan kualitas cukup baik dari kamera utama (71 poin), namun hasil zoom dan ultrawide masih biasa saja.
Vivo melanjutkan kolaborasinya dengan Zeiss, dan V60 hadir dengan perubahan perangkat keras kamera yang cukup signifikan dibanding V50:
Kamera utama: 50 MP sensor Sony IMX766 — lebih andal dari sensor Omnivision sebelumnya, menghasilkan detail tinggi dengan rentang dinamis yang baik.
Telefoto: 50 MP sensor Sony IMX882 — tambahan besar tahun ini. Mendukung zoom hybrid hingga 100×, meski penggunaan terbaik di jarak dekat dan potret.
Ultrawide: 8 MP — turun kelas dari sensor 50 MP di V50. Masih layak digunakan di cahaya terang, tapi kurang detail dan lemah di low light.
Foto yang dihasilkan tajam, lengkap dengan filter Zeiss seperti Natural dan Vivid. Lampu LED belakang yang lebih lembut membantu foto potret dalam kondisi minim cahaya. Perekaman video mendukung hingga 4K 30fps, tapi tidak ada opsi 60fps dan stabilisasi masih bisa ditingkatkan.
Filter Zeiss Natural jadi favorit karena menghasilkan warna dan pencahayaan realistis di semua kamera.
Secara keseluruhan, sistem kameranya termasuk yang paling andal di kelas harga menengah, terutama berkat lensa telefoto baru.
Dalam pengujian langsung, kondisi cahaya rendah lebih menantang dibanding HDR, namun sistem triple camera tetap tampil stabil. Detail dari kamera utama dan telefoto memuaskan, dan konsistensi warna di ketiga kamera cukup mengejutkan untuk ponsel kelas ini.
Stabilisasi pada kamera utama bekerja sangat baik—hasil video terlihat mulus dan bebas jitter. Kamera telefoto tetap tajam saat diam, tapi saat bergerak, kestabilannya menurun meski sudah dibekali OIS. Sebaliknya, kamera ultrawide justru tampil mengejutkan—tanpa oversharpening berlebih dan dengan tekstur alami, terutama untuk video.
Performa: Snapdragon 7 Gen 4 Bawa Peningkatan Nyata
Perpindahan dari Snapdragon 7 Gen 3 ke 7 Gen 4 memberi peningkatan yang terasa. Performa harian mulus, multitasking ringan tanpa hambatan, dan GPU Adreno 722 mampu menangani banyak game populer dengan lancar. Game berat di pengaturan maksimal memang menunjukkan penurunan frame rate, tapi masih bisa dimainkan.
Saat dipakai bermain cukup lama, suhu perangkat naik namun tidak sampai mengganggu. Fitur Game Mode dari Vivo menyediakan kontrol refresh rate, blokir panggilan, hingga “Esports Mode” yang memaksimalkan performa sambil menonaktifkan distraksi.
Penyimpanan masih sama dengan V50: 128 GB, 256 GB, hingga 512 GB tanpa slot microSD. Unit review tidak mendukung eSIM, tapi ada dua slot SIM fisik.
Dari benchmark, Snapdragon 7 Gen 4 tampil dominan. Geekbench 6 mencatat skor 1247 (single-core) dan 3539 (multi-core), mengungguli Galaxy A36 5G. Pada 3DMark Extreme, skor High mencapai 1819 dan Low 1436—hampir dua kali lipat dari ponsel mid-range Samsung.
Software: Fitur Lengkap, Tapi Masih Ramai
Vivo V60 hadir dengan Android 15 dan FunTouch OS 15. UI-nya kaya fitur tetapi masih penuh aplikasi bawaan yang mungkin ingin kamu hapus. Vivo menjanjikan dukungan empat tahun pembaruan OS di Eropa (hingga Android 19) dan enam tahun pembaruan keamanan — lebih baik dari banyak merek budget, tapi masih di bawah Samsung yang sudah menawarkan tujuh tahun.
Personalisasi melimpah, mulai dari tema, warna UI, animasi kecil, hingga integrasi Google Discover dan Circle to Search. FunTouch memang bukan antarmuka paling bersih, tapi tetap nyaman jika sudah disesuaikan preferensi pengguna.
Baterai dan Pengisian Daya: Juara di Kelasnya
Baterai 6.500 mAh menjadi salah satu nilai jual terbesar. Dalam pengujian, Vivo V60 mencatat:
23 jam 55 menit browsing
10 jam 39 menit video playback
14 jam 7 menit gaming
Estimasi daya tahan keseluruhan: 9 jam 2 menit, menempatkannya di posisi ke-7 dari seluruh ponsel yang diuji dua tahun terakhir—jauh di atas rata-rata mid-range.
Untuk penggunaan moderat, baterai bisa bertahan 2 hari atau lebih. Saat bermain game, konsumsi meningkat, tapi tetap hemat.
Pengisian cepatnya juga impresif. Dengan charger 90W yang disertakan dalam kotak, baterai terisi:
50% dalam 30 menit
Penuh dalam 1 jam 2 menit
Ini memang sedikit lebih lambat dibanding V50 yang baterainya lebih kecil, tetapi jauh lebih cepat dibanding Samsung atau Google. Satu kekurangannya: tidak ada wireless charging.
Audio & Getaran
Speaker stereo menghasilkan suara lantang dan cukup stabil untuk menonton dan streaming. Speaker bawah lebih kuat daripada earpiece, dan sedikit distorsi muncul di volume maksimal, namun kualitasnya solid untuk kelasnya.
Tidak ada jack audio 3,5 mm, tetapi terdapat fitur peningkatan suara seperti audio tuning dan “Super Resolution” untuk audio bitrate rendah. Getarannya terasa lembut—tidak sekuat perangkat flagship, tapi masih layak.
Kesimpulan: Salah Satu Mid-range Terkuat 2025
Vivo V60 membawa peningkatan besar dalam waktu rilis yang singkat: baterai lebih besar, kamera telefoto baru, dan chipset Snapdragon lebih cepat. Kombinasi ini menjadikannya upgrade signifikan dari V50 dan salah satu mid-range paling kompeten tahun 2025.
Kekurangannya masih serupa seri sebelumnya: FunTouch yang ramai, tanpa wireless charging, dan tidak tersedia secara resmi di AS. Namun bagi banyak pengguna, layar AMOLED cerah, daya tahan baterai luar biasa, dan kamera solid akan menjadi alasan kuat memilihnya.
Pesaing seperti Galaxy A36 mungkin menawarkan UI lebih bersih dan dukungan software lebih panjang, tetapi jika kamu bisa mendapatkan Vivo V60, perangkat ini menjadi paket lengkap yang sangat kompetitif di pasar kelas menengah.