Di era internet, istilah brain rot merujuk pada konsumsi konten receh di media sosial secara berlebihan. Brain rot berpotensi dialami oleh pengguna di semua rentang usia, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua. Beberapa tanda terjadinya brain rot adalah sulitnya berkonsentrasi kala beraktivitas hingga kesulitan untuk melepaskan diri dari gadget.
Menurut Melly Latifah dkk dari Divisi Perkembangan Anak, Departmen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University, berdasarkan hasil risetnya, anak-anak yang kecanduan main hp cenderung menunjukkan perilaku seperti sulit melepaskan diri dari hp, mudah marah saat penggunaan hp dibatasi, dan mengabaikan aktivitas lain yang lebih bermanfaat.
Kecanduan main hp dapat menghambat perkembangan sosial-emosional anak. Anak-anak yang terlalu sering menggunakan hp cenderung memiliki kemampuan interaksi sosial yang lebih rendah dibandingkan dengan yang penggunaan hp-nya dibatasi. Berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan Melly dkk, berikut sejumlah rekomendasi praktis bagi orang tua dalam menghadapi tantangan penggunaan hp oleh anak:
Pertama, batasi durasi penggunaan hp pada anak. Anak usia prasekolah sebaiknya tidak menggunakan hp lebih dari satu jam per hari.
Kedua, pilih konten yang sesuai usia anak. Pastikan anak hanya mengakses konten yang sesuai dengan usianya. Gunakan aplikasi dan platform yang memiliki fitur pengawasan orang tua.
Ketiga, libatkan anak dalam aktivitas non-digital yang melibatkan interaksi langsung, seperti bermain di luar ruangan, membuat kerajinan tangan, atau membaca buku bersama
Keempat, tingkatkan kualitas interaksi keluarga. Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak tanpa gangguan hp. Hal ini penting untuk membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak
Kelima, jadilah contoh yang baik. Anak cenderung meniru perilaku orang tua. Oleh karena itu, orang tua perlu menunjukkan perilaku yang bijak dalam penggunaan hp, seperti tidak terlalu sering menggunakan ponsel saat bersama anak.