Kenaikan harga smartphone (hp) tahun ini bukan muncul tanpa sebab. Industri global sedang menghadapi lonjakan biaya komponen yang cukup signifikan akibat kapasitas produksi semikonduktor yang semakin banyak dialokasikan untuk kebutuhan AI dan data center.
Dilansir dari Techwire Asia, untuk hp entry level di bawah USD 200, biaya produksi (bill of materials/BOM) naik sekitar 25% dibanding sebelumnya.
Maka dari itu, usia pakai saat ini menjadi perhatian utama ketika membeli hp baru. Pencari hp kini memilih hp agar tidak selalu ganti hp baru akibat usia pakai yang singkat karena total biaya gonti-ganti hp bisa jadi lebih besar daripada membeli perangkat yang awet 5-6 tahun.
Ada beberapa kriteria yang mesti dipertimbangkan para pencari hp baru, yakni ketahanan perangkat, keamanan perangkat, dukungan pembaruan perangkat lunak, dan layanan purna jual
Hp yang mendapat pembaruan sistem operasi dan keamanan selama bertahun-tahun tentu memiliki nilai pakai yang lebih panjang dibanding perangkat yang hanya mendapat dukungan singkat. Samsung misalnya menekankan dukungan hingga enam generasi pembaruan OS dan enam tahun pembaruan keamanan, serta perlindungan Samsung Knox yang kini tersedia hingga kelas entry level.
Ketika hp mampu bertahan lebih lama dengan dukungan software bertahun-tahun, keamanannya terjamin, serta layanan purna jual mumpuni, nilai yang diterima pengguna bisa melampaui harga saat pembelian.
Juga jangan lupakan faktor ketahanan perangkat terkait kondisi fiisik, dimana pastikan hp yang dipilih memiliki jaminan kuat saat terjatuh, atau tidak masalah jika terkena air dan debu.
***