Starlink adalah layanan internet berbasis satelit yang disediakan oleh SpaceX, perusahaan peluncur roket luar angkasa, asal Amerika Serikat.
Starlink mulai diperkenalkan ke publik pada Januari 2015, pada acara pembukaan fasilitas pengembangan SpaceX di Redmon, Washington, Amerika Serikat. Dan peluncuran pertama satelit starlink ke orbitnya di luar angkasa, dilakukan pada tahun 2019.

Starlink merupakan konstelasi satelit atau sekumpulan satelit di luar angkasa yang saling terkoneksi dengan tujuan untuk menyediakan akses internet pita lebar ke seluruh dunia.

Posisi satelit starlink di luar angkasa berada pada orbit LEO (Low Earth Orbit) atau melayang 340 km hingga 1200 km di atas permukaan bumi.
Umumnya satelit lain seperti satelit milik Telkom Indonesia, Satria-1, berada di orbit GEO (Geostationary Orbit), yang melayang setinggi 36000 km di atas permukaan bumi.
Saat ini (Mei 2024), jumlah satelit starlink yang sudah beroperasi di luar angkasa untuk melayani akses internet di seluruh dunia sudah lebih dari 5900 satelit, dari total 6436 satelit starlink yang ada di angkasa.
Video singkat tentang starlink (starlink.com)
Cara Kerja Starlink
Untuk membayangkan bagaimana satelit starlink bekerja, kalau diibaratkan seperti infrastruktur telepon selular di darat, satu satelit starlink sama dengan satu menara BTS (Base Transceiver Station) atau menara wifi yang diletakkan di luar angkasa.
Proses kerjanya, satelit starlink akan mengirim dan menerima sinyal dari perangkat penerima khusus yang disediakan saat kita membeli dan berlangganan. Perangkat tersebut akan dihubungkan ke router. Dari router ini lah perangkat ponsel ataupun laptop kita bisa terkoneksi dengan layanan internet layaknya seperti wifi.

Menginstal Starlink Cukup Mudah
Untuk menggelar atau memasang perangkat starlink sangat sederhana dan cukup mudah. Semua orang bisa melakukannya sendiri, tidak perlu lagi menunggu ketersediaan jaringan di sekitar lokasi, atau pun menunggu petugas datang ke rumah.
Dari segi infrastruktur, karena starlink berbasis komunikasi satelit, maka untuk menggelar layanan starlink hingga ke lokasi kita berada, provider tidak perlu lagi menggali tanah dan menarik kabel optik, menyewa tanah atau bangunan untuk menempatkan BTS.
Pengguna hanya perlu meletakkan perangkat khusus (sebagai antenna pengirim dan penerima sinyal dari satelit starlink) di lingkungan yang bebas halangan ke arah langit, yang tentunya telah tersambung ke colokan listrik dan router, maka pengguna sudah siap menerima layanan internet melalui ponselnya atau laptopnya bak ber-internet menggunakan wifi.
Karena kemudahan itulah membuat layanan starlink bisa dirasakan oleh setiap orang kapanpun dan dimanapun, terutama di wilayah yang tak tersedia infrastruktur telekomunikasi (internet) seperti di area terpecil, daerah 3T (daerah tertinggal, terdepan, dan terluar), di laut, bahkan bisa dimanfaatkan ketika terjadi bencana alam di saat seluruh infrastruktur telekomunikasi darat luluh lantak dan tidak berfungsi.

Kecepatan Internet Starlink
Untuk kecepatannya, starlink diklaim mampu menyediakan kecepatan unduh data hingga 200 Mbps. Pada beberapa percobaan yang dilakukan di Indonesia, ternyata kecepatan internet starlink berbeda-beda, ada yang dapat 200Mbps namun ada yang hanya sekitar 80 Mbps saja.
Berikut kecepatan layanan internet starlink yang direncanakan:
src: https://www.starlink.com/legal/documents/DOC-1400-28829-70
Pada halaman situs website starlink, diakui bahwa memang bisa terjadi variasi kecepatan internet yang diterima pengguna.
Kecepatan internet starlink bisa berubah-ubah sesuai dengan lokasi, waktu, dan prioritas layanan. Kecepatan internet starlink pun bisa turun akibat dari penggunaan yang tinggi.
Jadi diharapkan para pengguna starlink menggunakan akses internet ini secara wajar. Starlink pun tidak menjamin 100% layanannya tidak ada gangguan.
Indonesia sebenarnya punya layanan serupa (layanan berbasis satelit)
Indonesia sebenarnya sudah punya infrastruktur layanan internet berbasis satelit, salah satunya satelit satria milik pemerintah indonesia melalui Kementerian Kemonukasi dan Informatika (Kemenkominfo)
Satelit satria menggunakn orbit GEO (Geostationary Earth Orbit) dengan jarak orbit 36000 km dari permukaan bumi, juga ditugaskan untuk melayani layanan internet di wilayah Indonesia, terutama di wilayah pelosok atau wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) yang tidak terjangkau layanan internet berbasis kabel optik ataupun selular.
Sama seperti starlink, layanan internet satria juga bisa dirasakan secara langsung ke end-user (direct to home), melalui antena VSAT (Very Small Aperture Terminal), sebuah terminal antena yang berdiameter 0.6 dan 2.4 meter, atau ada juga yang besar dengan ukuran diamater 3 sampai 6 meter seperti parabola.


Dengan kehadiran starlink di Indonesia, tentunya menjadikannya sebagai pesaing sengit bagi layanan internet satelit satria ataupun layanan satelit VSAT yang sudah lama beroprasi di Indonesia. (*)