Setiap orang saat ini tidak bisa lepas dari yang namanya smartphone atau handphone (hp). Hampir segala aktvitas manusia saat ini terhubung dengan perangkat elektronik yang bisa digenggam tersebut, entah itu bekerja, belanja, mencari hiburan, bermain, dan berbagai aktivitas lainnya.
Tapi dibalik kemudahan yang diberikan handphone, ada risiko yang harus ditanggung oleh manusia di masa depan, yakni terkait pada dampak buruk terhadap lingkungan. Parahnya itu terjadi dari setiap langkah keberadaan hp, dari mulai proses produksi sampai pembuangan limbah (e-waste). Proses produksi adalah penyumbang 'kiamat' terbesar dari sebuah hp dengan persentase 85%. Sisanya, tersebar saat hp digunakan dan dibuang.
Menurut data dari data Statista (2023), jumlah hp yang telah beredar di dunia sudah mencapai 6,84 miliar unit. Jumlah ini lebih banyak dari jumlah penduduk dunia. Sedangkan di Indonesia, menurut Kemenkominfo, jumlah hp yang telah beredar sudah melebihi 345,3 juta unit.
Kenapa setiap unit hp yang hadir di bumi ini bisa membuat lingkungan hidup menjadi semakin dekat dengan kiamat?
- Setiap memproduksi satu unit handphone, produsen harus memanasi mesin-mesinnya di pabrik dengan bahan bakar fosil. Lalu, saat proses perakitan untuk membentuk desain, dibutuhkan juga plastik dan bahan metal yang tidak ramah lingkungan.
- Agar hp bisa menyala, maka dibutuhkan baterai yakni dengan menciptakan baterai lithium. Menurut peneliti Massachusetts Institute of Technology, bahwa proses terakhir ini berdampak besar pada lingkungan. Setiap kali ada penambangan lithium, terjadi pemborosan listrik dan air dalam skala besar.
- Setelah hp sampai di tangan konsumen, lamanya penggunaan hp serta banyaknya aplikasi yang diproses, berdampak pada jumlah karbon yang mencemari lingkungan. Semakin lama bermain hp, makin besar pula data tersimpan di server. Dan semua ini memberi beban besar pada pusat data yang selama 24 jam non-stop terus aktif, sehingga penggunaan listrik dan pendingin berkontribusi pada perubahan iklim. Riset terbaru dari The Burrow saat bermain TikTok, misalnya, seseorang bisa menghasilkan 2,63 gram karbon per menit.
- Semakin sering hp dipakai maka semakin besar pula peluang hp tersebut mengalami kerusakan. Apalagi saat ini ukuran ketebalan hp semakin tipis, sehingga proses perbaikannya makin sulit dan semakin mahal. Sebagaimana dipaparkan Wired, kerusakan hp dan untuk memperbaikinya bukan lagi opsi terbaik ketika dunia memasuki era hp yang tipis dan ringan. Maka, satu-satunya cara terbaik ketika hp sudah rusak adalah "lem biru" alias "lempar beli baru.". Cara ini membuat limbah elektronik dari handphone akan semakin banyak. Wired menjelaskan kandungan mineral dan kimia pada hp sangat berbahaya ketika dibuang. Saat dibuang ke tanah atau air, maka bahan kimia dan karsinogenik itu akan terlepas dan masuk ke dalam tanah, sumber air dan makanan, hingga akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia. Daur ulang hp yang dianggap solusi pun kurang memuaskan. Sebab, data menyebut hanya 17% saja dari hp yang bisa didaur ulang.
Diakui bahwa permasalahan 'kiamat' saat memakai hp salah satu yang memang susah diselesaikan, karena benda yang bisa digenggam itu sudah kadung melekat dan berpengaruh sangat penting di kehidupan kita.