Anak Muda Segeralah Kurangi Konsumsi Makanan dan Minuman Manis, Daripada Sakit Parah di Kemudian Hari

Gula bisa membuat orang adiktif, membuat setiap orang ketagihan mengkonsumsi makanan dan minuman bergula. Namun sayangnya bahan makanan yang manis ini banyak menjadi bahan pencampur makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh anak muda di Indonesia.

Anak Muda Segeralah Kurangi Konsumsi Makanan dan Minuman Manis, Daripada Sakit Parah di Kemudian Hari
ilustrasi (www.alodokter.com)
Carihape.com - 

Makanan dan minuman yang banyak beredar saat ini banyak mengandung gula sebagai pemanis, baik gula alami maupun buatan. Namun sayangnya, banyak anak muda generasi Z dan milenial gemar mengkonsumsinya karena tuntutan pergaulan di era media social saat ini. 

Tapi, tahukah kamu bahwa gula adalah sumber penyakit dari banyak penyakit mematikan saat ini, bahkan penyakit jantung yang kata orang karena kolesterol tinggi, pun sebenarnya berawal dari gula. JIka banyak mengkonsumsi makanan dan minuman bergula menyebabkan kandungan gula (glukosa) dalam darah menjadi tinggi.

Penyakit gula darah tinggi dikenal dengan nama diabetes, namun banyak orang tidak menyadari kalau penyakit ini adalah awal mula dari banyak penyakit mematikan lainnya seperti stroke dan jantung.

Penyakit diabetes terjadi saat tubuh tidak bisa memproses secara optimal semua gula (glukosa) di dalam aliran darah melalui hormone insulin, sehingga gula dalam darah menjadi tinggi. 

Jika itu terjadi dan dibiarkan, maka gula darah berlebih itu bisa merusak pembuluh darah di dalam tubuh, ujungya akan menimbulkan komplikasi yang dapat menyebabkan serangan jantung, tekanan darah tinggi, kebutaan, gagal ginjal bahkan amputasi anggota tubuh bagian bawah.

Siapa yang bisa terkena penyakit diabetes?

Siapapun dapat terkena penyakit diabetes, namun banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang menderita diabetes, sebelum diperiksa ke dokter. 

Ada dua jenis tipe diabetes yang bisa diidap oleh setiap orang, yaitu diabetes tipe-1 dan tipe-2. 

Diabetes tipe-1 disebabkan karena adanya masalah pada pankreas dalam tubuh dimana pankreas berhenti bekerja menghasilkan insulin. Ahli kesehatan menduga kerusakan pada pankreas seperti itu disebabkan karena isu genetika (keturunan) atau adanya virus yang mengganggu pancreas menghasilkan hormone insulin secara optimal. 

Sedangkan diabetes tipe-2, adalah jenis diabetes yang paling banyak diidap masyarakat, namun banyak yang tidak menyadari. Ini bukan karena pankreas rusak akibat keturunan atau virus, namun disebabkan karena pankreas tidak bekerja optimal lagi karena terlalu sering diberikan beban kerja yang tinggi di luar batas kemampuannya. Akibatnya pankreas tidak mampu menghasilkan hormon insulin yang memadai atau kualitasnya mulai menurun untuk memproses gula darah. 

Kemampuan pankreas untuk menghasilkan insulin di setiap orang berbeda. Jika semakin banyak gula yang masuk ke dalam tubuh di luar batas kemampuan pankreasnya untuk menghasilkan hormone insulin, ini bisa membuat pankreas kewalahan memproses gula darah. Akibatnya banyak gula darah yang tidak terproses dengan baik dan kemudian menyebar ke pembuluh darah lainnya apakah itu pembuluh darah jantung, kepala, dst yang ujungnya bisa menjadi sumber awal penyakit jantung atau stroke.

Glukosa dibutuhkan tubuh sebagai sumber tenaga

Jadi, dalam prosesnya hormon insulin yang dihasilkan oleh pancreas akan memproses glukosa (zat yang terkandung dalam gula darah) menjadi energi. Hasil pemrosesan glukosa oleh insulin tersebut akan disebarkan ke sel-sel di seluruh tubuh sebagai sumber energi serta juga disimpan di otot dan lemak sebagai cadangan energi. Dengan energi yang ada di dalam sel inilah setiap organ dalam tubuh bisa terus bisa berakfitifas. 

Selama pankreas memproduksi cukup hormon insulin dan mampu memproses glukosa dengan optimal, maka kadar gula darah akan selalu terjaga berada dalam kisaran yang sehat. 

Berapa kadar gula darah yang normal? 

Dikutip dari prudential.co.id, bagi orang yang belum didiagnosis menderita diabetes, kadar glukosa yang normal haruslah di bawah 125 mg/dL ketika sedang puasa atau tidak makan selama delapan jam.

 

petugas memeriksa kandungan gula darah (https://www.halodoc.com/)

 

Sedangkan untuk penderita prediabetes, kadar glukosa darah yang wajar berada dalam rentang 100 mg/dL sampai 125 mg/dL. 

Jika sudah didiagnosis menderita diabetes, hiperglikemia terjadi ketika kadar gula darah lebih besar dari 180 mg/dL ketika dicek setelah 1-2 jam setelah makan.

Pada hakikatnya, kadar glukosa yang terlalu banyak atau terlalu sedikit tidak baik bagi kesehatan. Jika terlalu banyak, takutnya pancreas tidak mampu memprosesnya dengan baik, mengakibatkan gula darah merusak pembuluh darah dalam tubuh. Jika gula darah terlalu sedikit, maka tubuh tidak mendapatkan energi yang cukup untuk beraktifitas. (tubuh akan lemas)

Penyakit gula darah tinggi meningkat setiap tahunnya. Menurut Susie Setyowati, konsultan endroktrin, metabolik, diabetes di Jakarta, yang dikutip dari kemenkes.go.id, penyakit yang masuk dalam kategori penyakit kronis ini tak bisa disembuhkan, tapi dapat dikendalikan agar tidak terjadi komplikasi.

Oleh karena itu, untuk berjaga-jaga agar gula dalam darah tetap normal, setiap orang harus berusaha bergaya hidup sehat, salah satunya dengan menjaga asupan makanan yang dikonsumsi. Usahakan jangan biarkan pankreas bekerja terlalu keras untuk memproses gula darah yang tinggi.  Pilihlah makanan yang sehat dan memiliki gizi seimbang. Kurangi atau kelola asupan makanan dengan kandungan gula dan karbohidrat yang tinggi. kalaupun harus mengkonsumsi makanan mengandung gula seperti nasi putih maka makanlah sesuai kebutuhan, dimana makan saat lapar dan selesai sesaat sebelum kenyang. (*)

diabetes gula darah anak muda makanan manis minuman manis penyakit diabetes generasi Z generasi milenial