Videocommerce telah menjadi cara baru masyarakat Indonesia berbelanja online. Format ini menggabungkan hiburan dan transaksi, memungkinkan konsumen menemukan, menilai, dan membeli produk langsung dari tayangan video.
Menurut laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, pertumbuhan videocommerce di Indonesia meningkat pesat dan mulai berperan penting dalam ekosistem e-commerce.
Pertumbuhan Transaksi Melejit 90%
Laporan tersebut mencatat volume transaksi videocommerce di Indonesia mencapai 2,6 miliar transaksi, tumbuh 90% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh semakin mudahnya penjual memproduksi konten video, meningkatnya fitur pendukung di platform e-commerce, serta budaya masyarakat Indonesia yang memang gemar menonton video.
Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, menegaskan bahwa Indonesia adalah pasar video yang sangat kuat, dengan peningkatan waktu menonton YouTube sebesar 20% YoY. Kebiasaan ini berpindah ke pola belanja, melahirkan model konsumsi baru: menonton sambil membeli.
Kategori Terbesar dan Pola Belanja
Dari berbagai kategori, dua sektor mendominasi transaksi videocommerce:
- Fashion & aksesori – 28%
- Perawatan diri & kecantikan – 20%
Kategori-kategori ini cocok dengan format video pendek karena mudah diperagakan, ditampilkan hasilnya, dan memberikan bukti visual langsung kepada calon pembeli.
Meski demikian, nilai pesanan rata-rata (Average Order Value/AOV) videocommerce Indonesia masih berada di kisaran US$4,5–US$6 (Rp 75 ribu – Rp 100 ribu). Angka ini lebih rendah dibanding rata-rata Asia Tenggara yang berada di US$6–US$7, menunjukkan karakteristik pembelian impulsif namun frekuentif di Indonesia.
Ledakan Penjual Videocommerce
Jumlah penjual videocommerce di Indonesia kini mencapai 800 ribu penjual, naik 75% dari tahun sebelumnya. Semakin banyak toko yang mengadopsi metode ini karena dapat menghasilkan visibilitas lebih baik dibanding katalog statis.
Secara regional, Asia Tenggara mencatat lebih dari 3 juta penjual, naik 80% YoY, dengan volume transaksi meningkat 50% hingga melampaui 6,5 miliar transaksi.
Videocommerce kini menyumbang 25% GMV e-commerce seluruh Asia Tenggara, naik sekitar 5% dari 2022. Ini menandakan bahwa format belanja berbasis video bukan tren sesaat, tetapi pergeseran permanen perilaku konsumen.
Mengapa Videocommerce Sangat Efektif?
Efektivitas videocommerce berasal dari dua faktor penting:
1. Kepercayaan pada kreator
Menurut Google, 92% pengguna Indonesia mempercayai kreator dalam mengambil keputusan pembelian. Rekomendasi kreator—baik micro influencer maupun kreator independen—memberi rasa autentik yang tidak bisa diberikan oleh iklan biasa.
2. Pengalaman belanja yang lebih hidup
Video memungkinkan:
- demonstrasi produk,
- perbandingan langsung,
- real use-case,
- bukti kualitas,
- serta interaksi real-time saat live.
Semua ini mendorong keputusan belanja yang lebih cepat.